Selasa, 16 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Tiga Benteng Satu Prajurit
“ Tiga Benteng dan Satu Prajurit “
Memang tak pernah tau seperti apa wujudmu dan
seperti apa kokohmu, jika seperti bunga, kau tak nampak dan baumu tak tercium
olehku padahal kurindukan. Dan jika kau air, tak kulihat bening disini, dan tak
kudengar gemercik suaramu. Mungkin kau telah datang sebelumku dan jejakmupun
terhapus waktu.
Tetapi aku seperti menjadi prajurit dan
merekalah ketiga benteng itu, benteng yang kuharap dapat melindungi dan ketika
matahari sedang tinggi, kuharap tiga benteng itupun tak mau kalah tinggi untuk
melindungi prajurit kecil yang bersenjata nyawa pergi mencari arti. Dan ketika
amarah sang raja dan ratu mengarah padaku karena akulah satu-satunya prajurit
itu, kuharap benteng itupun ada untukku bersandar dan berbagi pilu, indahlah
jika semua itu terjadi. Ketika aku menggebu-gebu menyanggamu dari segala yang
menerpamu, dan kau selalu melindungiku dari apa yang menerpaku, menangispun aku
mau jika itu bersama mereka. Itu sangat indah bahkan samuderapun kalah indah,
tetapi itu semua hanyalah harapan.
Mereka adalah benteng yang dibuat oleh Tuhan
dan ternyata itupun hanya sementara, benteng itu tak runtuh tetapi benteng itu nyata
sementara dan kekal selamanya disurga bahkan tiga-tiganya, Tuhan telah
merencanakan benteng itu untuk melindungi sang raja dan sang ratu ketika mereka
sudah mendengar panggilanNya. Entah denganku kelak bisa melihat senyummu atau
hanya mendengar suaramu, aku selalu berharap begitu. Aku terlalu sepi disini
padahal ini dunia yang katanya surga walaupun sementara, alangkah indahnya jika
mereka nyata dan dapat berbagi luka,duka,tawa. Aku bahkan belum melihatmu
datang dan juga tak melihatmu ketika pulang, saat itu aku masih menjadi rencana.
Terkadang memang ada sedikit iri ketika melihat mereka bercanda, menangis,
tertawa. Oh Tuhan jika ini kuasamu, titipkan rinduku kepada mereka yang
mendahuluiku, dan jika ketika tiba giliranku semoga kita bertemu dan bisa
membangun kerajaan indah dan menikmati hangatnya senja di Nirwana amiin.
“ Jika
kita siap mendapatkan maka kita juga harus siap kehilangan. Kita tidak bisa
mengharapkan sesuatu teru datang kepada kita tanpa pernah merasa kehilangan.
Seperti itulah kebahagiaan, ketika kita berani melepas yang terus membuat kita
tertahan. Memang ada beberapa yang tidak diberikan Tuhan atau diambil Tuhan
dari kita, tapi sebenarnya kebih banyak lagi yang sudah diberikan tuhan kepada
kita. Tuhan berkatilah kami, keluarga kami, teman-teman kami, dan seluruh ciptaanmu,
berikanlah tempat yang nyaman kepada keluarga dan teman-teman yang mendahului
kami, dan tolong bimbing kami menuju masadepan yang lebih membanggakan,
terimakasih Tuhan atas anugerahmu.”
Terimakasih
telah berkunjung ( ilham jalu w_420 )....
Puisi Hitler untuk Ibu
“
Puisi Hitler Untuk Ibu “
Ketika ibumu semakin tua
Ketika matanya yang lembut tidak bisa
lagi melihatberbagai hal kehidupan seperti dulu
Ketika kakinya sudah semakin lelah,
tidak mampu lagi membawanya berjalan
Pinjamkanlah tanganmu untuk menopangnya
Dampingi dia dengan perasaan bahagia
Saatnya akan tiba saat kamu harus
menemaninya disaat terakhirnya
Dan
ketika dia bertanya kepadamu, berilah dia jawaban
Dan
ketika dia bertanya lagi, jawablah lagi
Dan
ketika masih bertanya lagi, berilah tanggapan lagi
Bukan
dengan ketidak sabaran, namun dengan kelembutan
Dan jika dia masih belum bisa
mengerti dengan baik, jelaskanlah kepadanya dengan senyuman
Waktunya akan tiba, waktu yang pahit,
ketika mulutnya tidak bisa lagi bertanya apa-apa.
Berbicara tentang baik dan buruk seseorang, bahkan hitler yang katanya
sangat kejam pun, memiliki kasih untuk ibunya yang sangat dalam. Puisi hitler
benar-benar mendalam dan jujur. Dia menyayangi ibunya seperti hitler menyayangi
dirinya sendiri, bahkan lebih.
Persis seperti puisi
Hitler, akan ada waktunya kita menemani saat-saat terakhir ibu. Akan ada
waktunya kita harus melepasnya perggi. Dan, karena kita sudah diberi banyak
sekali oleh ibu kita selama hidup maka jangan sampai kita memperlakukan dengan
buruk.
Rabu, 10 September 2014
Kau Adalah Penipu yang Dicintai
“
Kau adalah Penipu yang Dicintai “
Sudah
banyak sejarah tentang kau yang tak pernah dituliskan. Ketika berjalan membawa
beban,sebenarnya itu bukan beban,itulah masadepan yang selalu diharapkan.ketika
masadepan itu hampir muncul,darah pun kau curahkan dan 1001 penyakit pun
mengantri dan mengancam.
Kau
memang kuat,kau lebih kuat daripada batu karang, namun kau lembut seperti sutra
yang indah. Namun kenapa kau sering berbohong, ketika kami makan kau pun
tersenyum melihat sambil sesekali terenyuh, ‘’kau tak makan ? tidak aku sudah
makan ‘’sambil tersenyum”, ketika
kulihat dia bersandar dan sedikit sendu layaknya kertas usam yang berdebu, ku
mendekat dan bertanya “apakah kau lelah ?, tidak aku hanya bersandar karena
ingin sejajar denganmu”. ketika dia tertidur sambil menggigil,dan ada sedikit
pucat yang menutupi cahyamu, lalu kutanya ‘’ apakah kau sakit ?”,tidak ini
cuman kedinginan” ia menyalahkan alam, sebenarnya ada beban yang kau pikul dan
sepertinya ini rahasiamu, jangan sampai aku tau,itu prinsipmu. karena melihat
senyumku kau sangat bahagia. Mungkin aku terlalu kecil untuk mengintip apa yang
sering membuatmu sendu. Disore hari dan senja itu berpelangi ketika kau
menyebut namaku di dalam do’amu.
Ketika
alam membimbingku, aku pun mulai tau satu persatu beban yang membuatmu sendu.
selama itu kau berbohong kepadaku,
kenapa harus seperti itu ? dan kenapa kau selalu tersenyum ketika kau tau
bohong itu dosa ? aku pun mulai sedikit terdiam dan terpaku melihat kau senyum
dengan kebohonganmu. Ketika itu aku sadar tentang bahagiamu dan senyummu itu,
ternyata itu semua karena aku, kau berbohong karena kau tak ingin aku sedih
mendengar curahanmu dan melihat tetesan airmatamu.kau tak makan demi aku, kau
kelelahan demi aku, kau sakit karena mencarikan apa yang bisa membuatku tak
menangis. Tapi apa yang saya lakukan ? ketika itu saya hanya bisa bertanya dan
seharusnya saya berbuat sedikit berguna.
Tetapi
saya berjanji saya tidak akan membuatmu sedih menangis, karena setetes
airmatamu itu setumpuk dosa. darahpun rela kutumpahkan demi kau sang penipu. Didalam
do’aku selalu ku sebut “ jangan jemput kami terlalu pagi ya Tuhan, berikanlah
kesempatan utuk saya berbohong untuk menutupi beban yang bisa membuatnya
bahagia ‘’. Ibu kau lah malaikat di
dalam dunia nyata ini, yang selama ini dicintai,dan kau selalu kubanggakan. Kau
memang tak memberiku limpahan harta dan permata, tetapi jika dihitung
perbuatanmu selama aku menjadi bebanmu dan sampai sekarang. Setumpuk emaspun
tak sanggup menggantikannya.aku bangga,aku cinta padamu ibu, terimakasih ibu.
“jika
belum bisa membahagiakan, ya jangan merepotkan”. “ Buatlah beliau tersenyum
sebelum beliau tak bisa melihat kau menangis “.’’ Jangan ragu untuk memberikan
darahmu karena beliau tak ragu menaruhkan nyawanya demi kamu ‘’.
(
untukmu Ny. Lukitaningsih dari anakmu Ilham Jalu w_420 )
Kakimu Tertinggal Satu
“ Kakimu Tertinggal Satu “
Untuk seseorang yang
kau rindukan,dan yang kau perjuangkan puan.Dihatimu,dimatamu dia adalah
malaikat yang mampu membuatmu menimbun rindu jika tak bertemu, dia adalah
malaikat yang sangat tangguh menjagamu hampir setengah windu.Kau ceritakan itu
kepada duniamu Puan.
Tetapi dia hanyalah manusia biasa Puan, dia hanyalah manusia yang
ingin menjalani hidup seperti malaikat, tapi itu terjadi ketika dihadapanmu
Puan.Ketika dia jauh darimu, dia sempat mengintip sesuatu yang bercahaya namun
itu api, beda dengan kau yang bercahaya bak intan permata yang memancarkan
sinarmu yang sederhana dan tak menyilaukan Puan. ketika kau tau itu, airmatamu
pun jatuh menetes di bumi yang fana ini puan.dia adalah orang yang sangat
rugi,ya sangat rugi, karena didalam tetes airmatamu itu ada ribuan luka.
Ketika engkau berdua sudah berjanji untuk saling setia dihadapan
alam semesta ini,dan tak lama airmatamu tak lagi menetes,ya memang tak lagi
menetes, namun airmatamu mengalir Puan. janji itu di langgar oleh dia yang kau
perjuangkan,namun janji itu erat di genggamanmu Puan. kau yang menjanjikannya
bahagia, ya puan, dia bahagia dipelukan orang lain dan yang penting janjimu kau
tepati, walaupun airmatamu tak sanggup berhenti mengalir.
Sesungguhnya dia akan menuju masadepan yang sempurna bersamamu
puan, tetapi dia memilih mendaki masadepan dengan oranglain, tetapi apakah dia
bisa ? tentu tidak karena dia meninggalkan satu kaki yang lama menemani,dan dia
pun mendaki sambil tertatih dan pincang. Menggerutu bibir manismu tanpa hela
ceritakan semua,sebenarnya engkaulah malaikat yang mengabdi sebagai gadis
sederhana berhati intan permata Puan.
( ilham jalu w_420 )
Bintang dan Matahari
Bintang dan Matahari
Hari itu bukan lah
kelabu,Tetapi apa yang ada di perasaanku tak mungkin bisa ku menipu.Ketika kau
meninggalkanku aku seperti pelangi yang berdebu.Kau yang selalu tersenyum dan
menampakkan keanggunanmu yang tak perlu mewah dan terlalu menuntut,tetapi
sepertinya kau selipkan sesuatu di senyummu yang membekas dan sepertinya itu
haru biru,atau cuman masalalu? Entahlah aku tak tau,sesungguhnya di dalam hati
kecilku aku selalu ingin mencari apa yang membuat senyummu sedikit layu.Tetapi
apadaya ketika kau selesai dengan duniamu,kau pulang dan tertidur berbantal
rindu masalalu.Kau temukan duniamu sendiri yang lebih membuatmu bahagia
daripada kau bertemu dan duduk berdua denganku.
Ketika malam,duduk
sendiri dan menatap sang kejora nan indah di angkasa,dan ditemani angin yang
sering menidurkanmu,aku pun cemburu.Alam yang mengajarkanku cemburu,ketika
angin bisa meniupkan hawanya saat kau berkeringat,dan seperti matahari yang
selalu menyinari setiap langkah duniamu walaupun sesekali membuatmu mengeluh,seperti
bulan dan bintang yang selalu berdekatan dan selalu terang,yang selalu tersenyum
disaat kau pandangi ketika kau dihampiri masalalumu yang sangat berduri.Aku ingin
sedekat itu seperti bulan dan bintang bahkan lebih dekat sehingga tidak ada
celah lagi untuk masalalumu yang kerap ganggu tidurmu kembali mengusik.Tapi
apadaya ketika aku memilih menjadi bintang,kau memilih menjadi matahari.
(ilham jalu w_420)
Langganan:
Komentar (Atom)





