Jumat, 12 September 2014

Tiga Benteng Satu Prajurit


“ Tiga Benteng dan Satu Prajurit “

    Memang tak pernah tau seperti apa wujudmu dan seperti apa kokohmu, jika seperti bunga, kau tak nampak dan baumu tak tercium olehku padahal kurindukan. Dan jika kau air, tak kulihat bening disini, dan tak kudengar gemercik suaramu. Mungkin kau telah datang sebelumku dan jejakmupun terhapus waktu.
    Tetapi aku seperti menjadi prajurit dan merekalah ketiga benteng itu, benteng yang kuharap dapat melindungi dan ketika matahari sedang tinggi, kuharap tiga benteng itupun tak mau kalah tinggi untuk melindungi prajurit kecil yang bersenjata nyawa pergi mencari arti. Dan ketika amarah sang raja dan ratu mengarah padaku karena akulah satu-satunya prajurit itu, kuharap benteng itupun ada untukku bersandar dan berbagi pilu, indahlah jika semua itu terjadi. Ketika aku menggebu-gebu menyanggamu dari segala yang menerpamu, dan kau selalu melindungiku dari apa yang menerpaku, menangispun aku mau jika itu bersama mereka. Itu sangat indah bahkan samuderapun kalah indah, tetapi itu semua hanyalah harapan.
    Mereka adalah benteng yang dibuat oleh Tuhan dan ternyata itupun hanya sementara, benteng itu tak runtuh tetapi benteng itu nyata sementara dan kekal selamanya disurga bahkan tiga-tiganya, Tuhan telah merencanakan benteng itu untuk melindungi sang raja dan sang ratu ketika mereka sudah mendengar panggilanNya. Entah denganku kelak bisa melihat senyummu atau hanya mendengar suaramu, aku selalu berharap begitu. Aku terlalu sepi disini padahal ini dunia yang katanya surga walaupun sementara, alangkah indahnya jika mereka nyata dan dapat berbagi luka,duka,tawa. Aku bahkan belum melihatmu datang dan juga tak melihatmu ketika pulang, saat itu aku masih menjadi rencana. Terkadang memang ada sedikit iri ketika melihat mereka bercanda, menangis, tertawa. Oh Tuhan jika ini kuasamu, titipkan rinduku kepada mereka yang mendahuluiku, dan jika ketika tiba giliranku semoga kita bertemu dan bisa membangun kerajaan indah dan menikmati hangatnya senja di Nirwana amiin.
“ Jika kita siap mendapatkan maka kita juga harus siap kehilangan. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu teru datang kepada kita tanpa pernah merasa kehilangan. Seperti itulah kebahagiaan, ketika kita berani melepas yang terus membuat kita tertahan. Memang ada beberapa yang tidak diberikan Tuhan atau diambil Tuhan dari kita, tapi sebenarnya kebih banyak lagi yang sudah diberikan tuhan kepada kita. Tuhan berkatilah kami, keluarga kami, teman-teman kami, dan seluruh ciptaanmu, berikanlah tempat yang nyaman kepada keluarga dan teman-teman yang mendahului kami, dan tolong bimbing kami menuju masadepan yang lebih membanggakan, terimakasih Tuhan atas anugerahmu.”


Terimakasih telah berkunjung ( ilham jalu w_420 )....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar